Kisah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ketika ”Sayap Izrail”  datang, jiwa dan raga tak tentu hendak berlari kemana. Hanya ada pasrah, penye­salan dan ketakutan akan kematian. HIV AIDS, seolah mengubur mimpinya. Mencampaknya  dengan kasar ke dasar neraka dunia. Di hina, terpinggirkan, terlupakan. Hingga akhirnya, dari dasar neraka itu muncul bias-bias surga yang masih mau mendampingi. Sesungguhnya, ia pun tak mau cepat mati dan sendiri!

Angga (bukan nama sebena), masih bisa mengingat. Tentang impian dan semangat di kala usia nya beranjak remaja. Ada binar harapan, bisa hidup normal dan merubah semua khayalan menjadi kenyataan. Namun manusia hanya bisa berencana, tuhan jualah yang menggor­eskan takdir hidup Angga. Virus mematikan HIV/AIDS, positif di deritanya. Angga pun shock.

”Saya masih sangat muda saat mengetahui saya positif terjang­kiti. Hal pertama yang saya ingat waktu itu, adalah besok saya mati. Itu saja!,” ujarnya pada saya,  di yayasan sosial itu..

Siapa yang tak takut mendengar HIV AIDS, virus mematikan yang  bisa membunuh sel-sel daya tahan tubuh secara perlahan namun pasti. Akibat kurang informasi, Angga pun sempat merasa terbenam dalam pahitnya derita neraka dunia. Merasa sendiri dan tersingkirkan. Kesakitan yang luar biasa. Hingga kerabat dan sahabat yang mulai menjaga jarak.

”Mungkin lebih tepatnya, saya yang merasa minder sendiri. Dalam hati, yang terbayang hanya kematian setiap hari. Meski saat itu, saya masih beraktifitas seperti biasa, namun kondisi batin saya sangat tertekan,” ujarnya.

Berlangsung cukup lama, akhirnya Angga mulai berpikir. Tidak ada yang salah dengan takdir. Hidup tak boleh berhenti, meski nyawa sudah di jatah. Angga pun memberanikan diri berkomunikasi dengan sebuah kelompok peduli Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di  kota X.

”Saat itu, kelompok tersebut hanya beberapa orang saja. Dalam kelompok itu, diantara kita tak tahu tentang  kondisi yang lain. Karena dalam kelompok tersebut, ada semacam kode etik tak perduli dengan masa lalu ataupun kondisi masa kini teman yang lain. Yang penting kita bersama-sama saling mensuport,” jelasnya.

Menemukan kelompok orang-orang yang memperlakukannya layaknya saudara, kerabat dan sahabat, kembali membuat hidup Angga yang semula hampir karam, seolah bisa berlayar kembali. Angga mengungkapkannya, sebagai bias-bias cahaya surga di tengah neraka derita takdirnya.

”Bersama kelompok Dukungan Sebaya, di Yayasan Sosial kota X , saya merasa bahwa hidup saya tak harus berhenti karena virus ini. Bahkan saya mulai berpikir, bagaimana caranya agar bisa membawa ODHA-ODHA lain, yang pasti pernah merasakan hidup tersingkirkan seperti saya, memiliki semangat lagi. Dan sekarang ternyata bisa,” ujarnya.

Di  ceritakan oleh Angga, saat mengetahui tentang cara pelaya­nan kesehatan bagi ODHA di RS kota X, dirinya sempat terkejut.

”Pelayanan kepada kami sangat diskriminatif. Padahal penyebar­an virusnya bukanlah segampang yang diperkirakan. Untunglah kami berada dalam suatu kelompok ODHA. Jadi bisa saling suport satu sama lain. Bahkan berkarya seperti biasa,” katanya.

Bergabung bersama kelompok ODHA, bagi Angga adalah hal yang luar biasa. Bayangan mati yang selalu muncul setiap hari, pelan-pelan mulai hilang. Persaudaraan dan suport luar biasa dari rekan, sahabat yang bahkan bukan penderita HIV AIDS, mulai merubah jalur hidupnya. Dalam menyikapi takdir bahkan menyelami rahasia tuhan.

”Saya akhirnya menikah dengan perempuan yang negatif HIV AIDS. Saya jujur dengan dia tentang kondisi saya sebelum kami menikah. Untuk ini, kelompok saya juga ikut membantu memberikan suport dan pengertian kepada calon saya dan keluarganya. Dan seperti mimpi saja, sekarang saya sudah punya istri bahkan punya seorang anak,” kisahnya dengan mata berbinar.

Tidak takutkah orang yang dicintai akan tertular HIV AIDS? Angga akui perasaan itu memang menghantuinya. Bahkan, diawal-awal perkawinan, Angga tak berani ”berbulan madu’’ dengan belahan jiwanya.

‘’Tapi berkat teman-teman sesama kelompok, akhirnya saya dapat masukan, saran sekaligus cara agar pasangan saya tidak terkena. Dan hingga saat ini, semuanya baik-baik saja. Kami hidup normal, begitu juga dengan saya,” ujarnya.

Terbayang oleh Angga, bila tak ada kelompok ODHA yang perduli padanya, entah kemana dirinya akan menyandarkan semua takdir yang bahkan tak pernah disangka mampu dipikulnya sendiri.

‘’Tidak semua orang mau perduli dengan kami. Padahal orang-orang seperti kami, sudah sangat banyak di daerah itu untunglah kami, yang berada dalam kelompok ODHA. Jika tidak, entah siapa yang mau menemani kami melewati ini semua. Kami juga sebenarnya tak ingin mati tanpa ada yang menemani,’’ ujar Angga mengakhiri wawancara panjang pagi itu.

Kelompok Sosial, yang menjadi tempat ‘’berteduh’’  puluhan para penderita HIV AIDS ternyata justru didirikan oleh mereka yang bukan penderita virus mematikan terse­but. Sebut saja yy (yang enggan disebut namanya) salah satu dari beberapa Mahasiswa ternama di kota X , sudah hampir dua tahun menjadi kakak dan sahabat bagi puluhan penderita positif HIV AIDS di kota ini.

Inilah sebuah rangkaian kisah, dari mereka-mereka yang tidak mau menutup mata, dan perduli untuk memahami, bahwa sendiri menunggu mati, adalah hukuman yang terlalu berat bagi penderita HIV AIDS!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s