2.6 Metode Pelatihan

Metode pelatihan yang digunakan dalam program pelatihan ini antara lain:

2.6.1        Metode pelatihan fisik:

  1. Fartlek

Metode latihan fartlek atau speed play yang diciptakan oleh Gosta Halmer adalah suatu sistem pelatihan endurance, yang maksudnya adalah untuk membangun, mengembalikan, atau memelihara kondisi tubuh seseorang (Harsono, 1988: 155). Fartlek sebaiknya dilakukan di alam terbuka dimana ada bukit-bukit, semak belukar, selokan untuk dilompati, dan sebagainya. Fartlek biasanya dimulai dengan lari lambat-lambat yang kemudian di variasi dengan sprint-sprint pendek yang intensif dan dengan lari jarak menengah dengan kecepatan yang konstan yang cukup tinggi, kemudian diselingi dengan jogging dan sprint lagi, dan sebagainya, metode ini sebaiknya dilakukan pada persiapan, masa jauh sebelum pertandingan. Fartlek adalah kerja pada tingkat aerobik, yaitu dimana pemasukan (supply) oksigen yang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan yang dilakukan oleh otot.

  1. Interval training

Sesuai dengan namanya, interval training adalah suatu sistem atau metode latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat (Harsono, 1988: 157). Jadi latihan (misalnya lari) – istirahat – latihan – masa-masa istirahat istirahat. Interval training sangat dianjurkan oleh pelatih-pelatih terkenal oleh karena hasilnya sangat positif bagi perkembangan daya tahan maupun stamina atlet. Bentuk latihan dalam interval training dapat berupa lari (interval running) atau renang (interval swimming). Interval training dapat pula diterapkan dalam weight training, circuit training, dan sebagainya. Ada beberapa faktor yang harus dipenuhi dalam menyusun interval training, yaitu :

  1. Lamanya latihan
  2. Beban (intensitas) latihan
  3. Ulangan (repetition) melakukan latihan
  4. Masa istirahat (recovery interval) setelah setiap repetisi latihan.
  1. Circuit training

Sistem latihan circuit training sejak diperkenalkan oleh Morgan dan Adamson pada tahun 1953 di University of Leeds di Inggris (Wilmore, 1977 dalam Harsono, 1988: 227) menjadi semakin populer dan diakui oleh banyak pelatih, ahli-ahli pendidikan jasmani, dan atlet sebagai suatu sistem latihan yang dapat memperbaiki secara serempak fitness keseluruhan daru tubuh, yaitu komponen-komponen biomotorik, karena itu bentuk-bentuk latihan dalam circuit training biasanya adalah kombinasi dari semua unsur fisik. Latihan-latihannya dapat berupa lari naik-turun tangga, melempar bola, shuttle run, berbagai bentuk weight training, dan sebagainya. Circuit training didasarkan pada asumsi bahwa seorang atlet akan dapat memperkembang kekuatannya, daya tahannya, kelincahan, total fitnessny dengan jalan :

  1. Melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dalam suatu jangka waktu tertentu, atau

b.Melakukan suatu jumlah pekerjaan atau latihan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

2.6.2        Metode pelatihan teknik:

  1. Metode imitasi. Atlet menirukan gerakan yang dicontohkan oleh pelatih atau peraga (Djoko Pekik, 2002: 83) . Biasanya: ”perhatikanlah ini…….cobalah?!”, jika atlet meniru dengan benar berilah komentar, ya itulah” namun jika atlet salah, berikan koreksi secara jelas pada bagian mana yang salah.
  2. Metode demonstrasi. Tahap dalam berlatih teknik kompleks adalah sebagai berikut :
  3. Peragaan dan penjelasan verbal: pelatih atau peraga memberikan contoh gerakan dengan memberikan penjelasan pada bagian-bagian penting.
  4. Mencoba melakukan gerak dan mencari kesalahan yang masih terjadi.
  5. Berikanlah koreksi, jika terjadi kesalahan secara serempak pada suatu gerakan yang sama, hentikan latihan dan berikan koreksi dengan menekankan pada gerakan yang benar.
  6. Praktek atau melakukan gerakan dengan ulangan sebanyak mungkin.
  1. Metode perangkaian.
  2. Metode bagian (Part methode), yakni mempelajari gerak demi gerakan secara bertahap, misalnya teknik tolak peluru dengan gaya O”Brien dilakukan secara bertahap: persiapan awalan, awalan, menolakkan peluru, lepasnya peluru, menjaga keseimbangan.
  3. Metode keseluruhan (Whole methode), cara berlatih dengan metode ini tanpa memperhatikan bagian demi bagian, yakni melatih rangkaian gerak pada teknik secara langsung. Misal teknik menolak dengan sudut yang benar.

2.6.3        Metode pelatihan mental.

Untuk memantapkan mental olahragawan perlu pembinaan yang sistematis, Suharno (1983) dalam Djoko Pekik (2002: 100) mengemukakan beberapa cara membina mental atlet, antara lain :

  1. Melalui latihan fisik
  2. Melalui sikap teladan dari pelatih
  3. Membiasakan kateraturan hidup sehari-hari
  4. Memberikan petuah, petunjuk baik di dalam maupun di luar latihan
  5. Memberikan motivasi
  6. Menanamkan akidah sesuai dengan keyakinan agamanya dan secara konsekuen melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s